Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Khulafa' Ar-Rashidin. Show all posts
Showing posts with label Khulafa' Ar-Rashidin. Show all posts

Monday, 28 March 2011

Perkembangan Islam Di Zaman Khulafa


Isi Kandungan

1. Bagaimana Perkembangan Politik dan Pemerintahan Pada masa Khulafa’ al-Rayidun?
2. Bagaimana Perkembangan Kebudayaan dan Peradaban Pada masa Khulafa’ al-Rayidun?
1.      Politik dan Pemerintahan Pada masa Khulafa’ al-Rasyidin
Abu Bakar As-Shiddiq 11-3 H/ 632-634 M
Abu Bakar memangku jabatan khalifah berdasarkan pilihan yang berlangsung sangat demokratis di muktamar Tsaqifah Bani Sa’idah, memenuhi tata cara perundingan yang dikenal dunia modern saat ini. Kaum Anshar menekankan pada persyaratan jasa (merit), mereka mengajukan calon Sa’ad Ibn Ubadah. Kaum muhajirin menekankan pada persyaratan kesetiaan, mereka mengajukan Abu Ubaidah Ibn Jarrah.2Sementara itu Ahlul bait menginginkan agar Ali Ibn Abi Thalib menjadi khalifah atas dasar kedudukannya dalam islam, juga sebagai menantu dan karib Nabi. Hampir saja perpecahan terjadi. Melalui perdebatan dengan beradu argumentasi, akhirnya Abu Bakar disetujui oleh jama’ah kaum muslimin untuk menduduki jabatan khalifah.
Sebagai kahlifah pertama, Abu Bakar dihadapkan pada keadaan masyarakat sepeninggal Muhammad SAW. Meski terjadi perbedaan pendapat tentang tindakan yang akan dilakukan dalam menghadapi kesulitan yang memuncak tersebut, kelihatan kebesaran jiwa dan ketabahan batinnya. Seraya bersumpah dengan tegas ia menyatakan akan memerangi semua golongan yang menyimpang dari kebenaran (orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat dan mengaku diri sebagai nabi).
Kekuasaan yang dijalankan pada massa khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasululllah, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum,. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabatnya bermusyawarah.
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengririm kekuatan ke luar Arabia. Khalid Ibn Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hiyah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi dibawah pimpinan empat jendral yaitu Abu Ubaidah, Amr Ibn ‘Ash, Yazid Ibn Abi Sufyan, dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun.
Umar Ibn Al-Khaththab 13-23 H/634-644 M
Umar Ibn Al-Khaththab diangkat dan dipilih oleh para pemuka masyarakat dan disetujui oleh jama’ah kaum muslimin. Pada saat menderita sakit menjelang ajal tiba, Abu Bakar melihat situasi negara masih labil dan pasukan yang sedang bertempur di medan perang tidak boleh terpecah belah akibat perbedaan keinginan tentang siapa yang akan menjadi calon penggantinya, ia memilih Umar Ibn Al-Khaththab. Pilihannya ini sudah dimintakan pendapat dan persetujuan para pemuka masyarakat pada saat mereka menengok dirinya sewaktu sakit.
Pada masa kepemimpinan Umar Ibn Al-Khaththab, wilayah islam sudah meliputi jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir. Karena perluasan daerah terjadi dengan begitu cepat, Umar Ibn Al-Khaththab segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi pemerintahan, dengan diatur menjadi delapan wialayah propinsi : Mekah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga Yudikatif dengan Eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Jawatan kepolisian dibentuk. Demikian juga jawatan pekerjaan umum, Umar Ibn Al-Khaththab juga mendirikan Bait al-Mall. Dalam menyelesaikan permasalahan yang berkembang dimayarakat Umar selalu berkomunikasi dengan orang-orang yang memang dianggap mampu dibidangnya.3
Ustman Ibn Affan 23-35 H/644-656 M
Ustman Ibn Affan dipilih dan diangkat dari enam orang calon yang diangkat oleh khalifah Umar saat menjelang wafatnya karena pembunuhan. Keenam orang tersebut adalah: Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Saad bin Abu Waqqash, Abd al-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, serta Abdullah bin Umar, putranya, tetapi “tanpa hak suara”.4 Umar menempuh cara sendiri yang berbeda dengan cara Abu Abakar. Ia menunjukkan enam orang calon pengganti yang menurutnya dan pengamatan mayoritas kaum muslimin memang pantas menduduki jabatan Khalifah. Oleh sejarawan islam mereka disebut Ahl al-Hall a al’aqd pertama dalam islam., merekalah yang bermusyawarah untuk menentukan siapa yang menjadi khalifah. Dalam pemilihan lewat perwakilan tersebut Ustman Ibn Affan mendapatkan suaran lebih banyak, yaitu 3 suara untuk Ali dan 4 suara untuk Ustman Ibn Affan.
Pemerintah khalifah Ustman Ibn Affan mengalami masa kemakmuran dan berhasil dalam beberapa tahun pertama pemerintahannya. Ia melanjutkan kebijakan-kebijakan Khalifah Umar. Pada separuh terakhir masa pemerintahannya, muncul kekecewaaan dan ketidakpuasaan dikalangan masyarakat karena ia mulai mengambil kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Ustman Ibn Affan mengangkat keluarganya (Bani Ummayyah) pada kedudukan yang tinggi. Ia mengadakan penyempurnaan pembagian kekuasaan pemerintahan, Ustman Ibn Affan menekankan sistem kekuasaan pusat yang mengusaai seluruh pendapatan propinsi dan menetapkan seorang juru hitung dari keluarganya sendiri.
Ali Ibn Abi Thalib 35-40 H/656-661 M
Ali Ibn Abi Thalib tampil memegang pucuk kepemimpinan negara di tengah-tengah kericuhan dan huru-hara perpecahan akibat terbunuhnya Usman oleh kaum pemberontak. Ali Ibn Abi Thalib dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum muslimin di madinah dalam suasana sangat kacau, dengan pertimbangan jika khalifah tidak segera dipilih dan di angkat, maka ditakutkan keadaan semakin kacau. Ali Ibn Abi Thalib di angkat dengan dibaiat oleh masyarakat.
Dalam masa pemerintahannya, Ali Ibn Abi Thalib mengahadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali Ibn Abi Thalib tidak mau menghukum para pembunuh Usman dan mereka menuntut bela’ terhadap daerah Usman yang telah ditumpahkan secara dhalim. Perang ini dikenal dengan nama perang jamal.5
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali Ibn Abi Thalib juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah. Yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaannya. Pertempuran yang terjadi dikenal dengan perang shiffin, perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelsaikan maslah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga Al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).6
2.      Peradaban dan Kebudayaan Pada masa Khulafa’ al-Rasyidin
1.      Pada Masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq
Pada ini kondisi sosial mayarakat menjadi stabil dan dapat mengamankan tanah Arab dari pembangkang dan penyelewengan seperti orang murtad, para nabi palsu dan orang-orang yang enggan membayar zakat.
Selain itu keadaan kaum muslimin menjadi tenteram, tidak khawatir lagi beribadah kepada Allah. Perkembangan dagang dan hubungan bersama kaum muslim yang berada di luar Madinah keadaannya terkendali dan terjalin dengan baik. Selain itu juga kemajuan yang dicapai adalah : Pembukuan Al-Qur’an
2.      Pada Masa Khalifah Umar Ibn Al-Khaththab
Diantara perkembangan yang ada pada masa Khalifah Umar adalah :
  • Pemberlakuan Ijtihad
  • Menghapuskan zakat bagi para muallaf
  • Mengahpuskan hukum mut’ah
  • Lahirnya ilmu Qira’at
  • Penyebaran Ilmu Hadits
  • Menempa mata uang dan
  • menciptakan tahun Hijriah
3.      Pada Masa Khalifah Ustman Ibn Affan
Diantara perkembangan yang ada pada masa Khalifah Ustman adalah :
  • Penaskahan Al-Qur’an
  • Perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram
  • Didirikannya masjid Al-Atiq di utara benteng babylon
  • Membangun Pengadilan
  • Membnetuk Angkatan Laut
  • Membentuk Departemen:
i.  Dewan kemiliteran
ii.  Baitul Mal
iii.  Jawatan Pajak
iv.  Jawatan Pengadilan
4.      Pada Masa Khalifah Ali Ibn Abi Thalib
Diantara perkembangan yang ada pada masa Khalifah Ali adalah :
  • Terciptanya ilmu bahsa/nahwu (Aqidah nahwiyah)
  • Berkebangnya ilmu Khatt al-Qur’an
  • Berkembangnya Sastra
READ MORE - Perkembangan Islam Di Zaman Khulafa

Uthman bin Affan RA


Khalifah Ketiga, Malaikat Berasa Malu Kepadanya
Muqaddimah
`A’ishah melaporkan: Nabi sedang duduk di bawah rumahnya dengan peha atau betisnya terdedah. Abu Bakar meminta izin untuk masuk ke rumah dan telah diizinkan sedangkan Nabi yang berada dalam posisi demikian dan ia datang dan berbicara dengan nabi. Kemudian `Umar meminta izin untuk memasuk. Dia telah diberikan izin dan datang dan berbicara dengan dia masih dalam posisi tadi. Kemudian` Usman bin Affan meminta izin dan Nabi bangun dan pakaiannya itu dibetulkan.

Dia kemudian diizinkan dan datang dan berbicara dengan Nabi. Setelah ia telah pergi, `A’ishah berkata,” Abu Bakar masuk dan anda tidak membetulkan pakaian untuk dia atau khawatir tentang dia dan `Umar datang dan Anda tidak membeetulkan pakaian untuk dia dan tidak khawatir tentang dia tetapi bila dalam `Usman bin Affan datang, Anda luruskan Anda pakaian!” Nabi berkata, “Patutkah saya tidak segan dengan seorang lelaki yang malaikat sangat malu dengannya?” (HR Muslim).
Sirah Uthman
Khalifah Uthman merupakan khalifah Islam yang ketiga selepas Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar al-Khattab. Beliau dilantik menjadi khalifah melalui persetujuan orang ramai (syura).
Nama beliau sebenarnya ialah Uthman b. ‘Affan b. Abul-As yang mana beliau dilahirkan ketika baginda Nabi Muhammad SAW berumur 5 tahun. Uthman merupakan seorang bangsawan dari golongan Quraish dari Bani Ummayah.
Beliau terkenal sebagai seorang yang lemah lembut, pemurah dan baik hati. Beliau merupakan salah seorang dari saudagar yang terkaya di Tanah Arab, sehingga beliau digelarkan dengan gelaran “al-Ghani“. Selepas memeluk Islam beliau banyak mendermakan hartanya ke arah kepentingan agama Islam, sebagai contohnya dalam peperangan Tabuk, beliau telah mendermakan hartanya iaitu 950 ekor unta, 50 ekor kuda dan 1,000 dinar. Begitu juga ketika umat Islam berhijrah ke Madinah, umat Islam menghadapi masalah untuk mendapatkan air minuman. Oleh itu Saidina Uthman telah membeli telaga Ruma dari seorang Yahudi dengan harga 20,000 dirham untuk digunakan oleh umat Islam dengan percuma.
Saidina Uthman bin Affan ra adalah seorang yang bertaqwa dan bersikap wara’. Tengah malamnya tak pernah disia-siakan. Beliau memanfaatkan waktu itu untuk mengaji Al-Quran dan setiap tahun beliau menunaikan ibadah haji. Bila sedang berzikir dari matanya mengalir air mata haru. Beliau selalu bersegera dalam segala amal kebajikan dan kepentingan umat, dermawan dan penuh belas kasihan. Khalifah Uthman telah melaksanakan hijrah sebanyak dua kali, pertama ke Habsyah, dan yang kedua ke Madinah.
Perjalanan ke Islam
Era sebelum Islam memerintah, orang Arab menyembah berhala dan hidup dalam keadaan jahiliyyah seperti menanam anak perempuan hidup-hidup dan menumpahkan darah yang jumlahnya bukan sedikit walaupun tanpa alasan. Semangat perkauman antara kabilah sangat kuat, dan menjadikan tuan menghina dan menzalimi hamba mereka. Perempuan diperlakukan dengan kejam, dianggap sebagai objek pemuas nafsu lelaki. Mereka semata-mata untuk melahirkan anak dan kegunaan pribadi.
Sebagai pemuda yang penuh denga kekuatan, `Usman bin Affan menjelajah ke banyak tempat untuk berdagan. Kerana itu dia mendapat kesempatan untuk mengenali berbagai orang dari berbagai bangsa dan untuk belajar banyak tentang pelbagai kepercayaan lain, yang berbeza darinya. Pandangannya tentang berhala dan gaya hidup orang Arab berubah ketika dia mengetahui tentang Kristian dan Yahudi.
Satu hari ketika `Usman bin Affan kembali ke Mekah setelah selesai berdagang, dan ketika itu orang berbicara tentang Muhammad bin Abdullah.Seluruh kota nampaknya berada dalam kekacauan kerana Muhammad memperkenalkan dirinya sebagai Rasulullah kepada semua orang di seru untuk menyembah hanya satu tuhan yakni Allah yang layak disembah dan tidak harus dikaitkan dengan apapun. Muhammad meminta mereka untuk meninggalkan kebiasaan menyembah semua berhala dan beribadah kepada Allah saja. Meskipun Arab mengetahui Allah, dakwah Muhammad nampaknya aneh, kerana mereka telah sejak lama menyembah tuhan lain selain Allah.
`Usman bin Affan mengetahui tentang Muhammad dengan sangat baik. Muhammad adalah seorang yang luar biasa yang sangat baik kepribadiannya. Walaupun dia tidak segera menerima kepercayaan Islam, ia tidak menentang Muhammad atau Islam seperti yang di lakukan oleh pemimpin Quraisy. Dia ingat akan pengalaman yang di perolehi dalam perjalanannya berdagang, dia mendengar cendekiawan Kristian dan Yahudi berbicara tentang kedatangan Nabi akhir di tanah Arab. Apabila `Usman bin Affan mendengar tentang nabi akhir dari Kristian dan orang-orang Yahudi, ia berharap bahwa nabi yang mereka cakapkan akan memimpin Arab ke dalam jalan terang dan lurus. Dia berfikir tentang apa yang Kristian dan Yahudi bicarakan dan akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi salah satu temannya, Abu Bakar, untuk mengetahui tentang kepercayaan baru ini. Dia tahu bahwa Abu Bakar telah menerima Islam dan dia sangat rapat dengan Muhammad. Abu Bakar menjelaskan banyak hal tentang Islam. Dia mengatakan bahawa orang Islam diminta untuk beribadah kepada Allah saja dan untuk melepaskan dari menyembah tuhan palsu atau berhala. Kemudian Abu Bakr mengundang dia untuk memeluk agama Islam. `Usman bin Affan merasa bahwa Islam adalah agama yang benar dari Allah dan segera masuk Islam atas undangan Abu Bakar. Setelah itu, `Usman bin Affan bertemu Nabi dan menyatakan bahwa dia menerima Islam.
Beliau digelarkan sebagai “Zunnurain” yang bermaksud dua cahaya kerana menikahi dua orang puteri Rasulullah iaitu Ruqayyah dan Ummi Kalthum. Setelah Ruqayyah meninggal dunia, Rasulullah SAW telah menikahkan beliau dengan puteri Baginda iaitu Ummi Kalthum. Uthman berkahwin sebanyak tujuh kali selepas kematian Ummi Kalthum dan seluruh anaknya berjumlah seramai 16 orang. Isterinya yang terakhir ialah Nailah binti Furaifisha.
Beliau dilantik menjadi khalifah selepas kematian Khalifah Umar ra. yang ditikam. Beliau dilantik menjadi khalifah pada tahun 23 Hijrah oleh jawatankuasa syura yang ditubuhkan oleh Khalifah Umar al-Khattab ra.
Kedermawanan Uthman
Dalam tahun kesembilan hijrah, Nabi mendapat berita bahwa Rom sedang merancang untuk memusnahkan Negara Islam yang baru muncul. Nabi seterusnya mengarahkan kaum kaum Muslimin untuk melengkapi diri mereka dengan persiapan perang. Tetapi persediaan menjadi sukar kerana pada tahun itu, kaum Muslimin nampaknya kekurangan sumber tanaman, dan mereka sedang menghadapi musim panas yang sangat panas. Mereka tidak memiliki kelengkapan yang cukup seperti tentera, kerana sebahagian besar Muslimin terdiri dari golongan yang miskin. Situasi ini tidak menghentikan Nabi SAW. Baginda mendesak para sahabat mempersiapkan diri untuk berperang. Setiap sahabat mencuba segala yang terbaik untuk memperkuatkan pasukan Muslimin. Perempuan menjual perhiasan emas dan permata yang mereke miliki untuk membantu persiapan perang.
Walaupun ratusan sahabat yang siap untuk masuk ke medan perang, mereka kekurangan banyak perkara yang diperlukan untuk berperang, seperti kuda, unta, dan bahkan pedang. Nabi mengatakan kepada mereka bahawa ini adalah persoalan yang hidup atau mati untuk negara Islam yang baru. Nabi lantas membuat pengumuman yang jelas: “Barangsiapa yang menyediakan kelengkapan untuk para prajurit, akan diampuni segala dosa oleh Allah.”
Usman bin Affan saat mendengar ucapan Rasulullah SAW, dia menyiapkan dua ratus unta berpelana untuk melakukan perjalanan ke As-Sham, dan mereka semua disiapkan dengan 200 auns emas sebagai sumbangan. Dia menyumbangkan 1000 dinar dan meletakkannya ke atas riba Nabi. Lagi dan lagi `Usman bin Affan sampai ia memberi sumbangan dengan menambah 900 unta dan 100 kuda, selain wang yang diberikan. Melihat kedermawanan `Usman bin Affan, Nabi membuat pernyataan berikut:” Dari pada hari ini, tidak akan ada apa yang akan membayakan `Usman bin Affan walaupun apa yang dilakukannya.”
Kepimpinan Dan Sejarah Pentadbiran
Ahli sejarah telah membahagikan tempoh pemerintahan Khalifah Uthman selama 12 tahun kepada dua bahagian iaitu pertamanya zaman atau tahap keamanan dan keagungan Islam, manakala yang keduanya pula ialah tahap atau zaman “Fitnatul-Kubra” iaitu zaman fitnah.
Zaman Keamanan Dan Keagungan Islam
Banyak jasa-jasa dan juga kejayaan yang telah dilakukan oleh Khalifah Uthman dalam menyebar dan memperkembangluaskan Islam. Ini termasuklah kejayaannya dalam:
1. Bidang Ketenteraan
Khalifah Uthman banyak melakukan perluasan kuasa terhadap beberapa buah negara dalam usahanya menyebarkan Islam, ini dapat dilihat pada keluasan empayar Islam yang dapat mengatasi keluasan empayar Rom Timur dan juga empayar Parsi pada zaman kegemilangan mereka. Antara wilayah baru yang telah berjaya ditakluki ialah Cyprus, Afganistan, Samarqand, Libya, Algeria, Tunisia, Morocco dan beberapa buah negara lagi. Beliau juga bertanggungjawab dalam menubuhkan angkatan tentera laut Islam yang pertama bagi menjamin keselamatan dan melakukan perluasan kuasa. Banyak negara-negara yang telah dibuka melalui angkatan tentera ini.
2. Pembukuan Al-Quran
Perluasan kuasa telah menyebabkan penyebaran Islam terjadi secara meluas. Apabila ramainya orang-orang yang memeluk Islam sudah tentu banyaknya perbezaan antara sesuatu wilayah dengan wilayah yang lain dari segi mereka mempelajari Islam. Apa yang paling ketara sekali ialah dalam masalah mereka mempelajari Al-Quran. Banyak terdapatnya perbezaan bacaan yang membawa kepada salah bacaan antara satu tempat dengan tempat yang lain. Dengan keadaan ini banyak terjadinya salah faham dan saling tuduh menuduh sesama orang Islam dalam menyatakan siapakah yang betul pembacaannya.
Oleh itu Khalifah Uthman telah mengadakan satu naskhah Al-Quran yang baru yang mana ianya digunakan secara rasmi untuk seluruh umat Islam. Khalifah Uthman telah menggunakan lahjah Bahasa Quraish dan yang mana Al-Quran yang berbeza telah dibakar. Al-Quran inilah yang digunakan hingga kehari ini yang mana ianya dikenali dengan nama Mushaf Uthmani. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjamin kesucian Al-Quran sebagai sumber perundangan Islam.
3. Pembesaran Masjid Nabawi
Masjid Nabawi telah menjadi padat kerana dipenuhi dengan jemaah yang semakin ramai, Oleh itu Khalifah Uthman telah membesarkan masjid tersebut dengan membeli tanah bagi memperluaskan kawasan tersebut. Masjid tersebut telah diluaskan pada tahun 29 Hijrah.
4. Menyebarkan Dakwah Islam
Khalifah Uthman sering berdakwah di penjara dan beliau berjaya mengislamkan ramai banduan. Beliau juga banyak mengajar hukum-hukum Islam kepada rakyatnya. Ramai pendakwah telah dihantar keserata negeri bagi memperluaskan ajaran Islam. Beliau juga telah melantik ramai pengajar hukum Islam dan juga melantik petugas khas yang membetulkan saf-saf solat. Beliau juga banyak menggunakan Al-Quran dan as-Sunah dalam menjalankan hukum-hukum.
Al-Fitnah al-Kubra (Zaman Fitnah)
Pada akhir tahun 34 Hijrah, pemerintahan Islam dilanda fitnah. Sasaran fitnah tersebut adalah Saidina Uthman ra. hingga mengakibatkan beliau terbunuh pada tahun berikutnya.
Fitnah yang keji datang dari Mesir berupa tuduhan-tuduhan palsu yang dibawa oleh orang-orang yang datang hendak umrah pada bulan Rejab.
Saidina Ali bin Abi Thalib ra. bermati-matian membela Saidina Uthman dan menyangkal tuduhan mereka. Saidina Ali menanyakan keluhan dan tuduhan mereka, yang segera dijawab oleh mereka, “Uthman telah membakar mushaf-mushaf, shalat tidak diqasar sewaktu di Mekah, mengkhususkan sumber air untuk kepentingan dirinya sendiri dan mengangkat pimpinan dari kalangan generasi muda. la juga mengutamakan segala kemudahan untuk Bani Umayyah (golongannya) melebihi orang lain.”
Pada hari Jumaat, Saidina Uthman berkhutbah dan mengangkat tangannya seraya berkata, “Ya Allah, aku beristighfar dan bertaubat kepadaMu. Aku bertaubat atas perbuatanku. ”
Saidina Ali ra menjawab, “Mushaf-mushaf yang dibakar ialah yang mengandungi perselisihan dan yang ada sekarang ini dan adalah yang disepakati bersama keshahihannya. Adapun shalat yang tidak diqasar sewaktu di Mekah, adalah kerana dia berkeluarga di Mekah dan dia berniat untuk tinggal di sana. Oleh kerana itu shalatnya tidak diqasar. Adapun sumber air yang dikhususkan itu adalah untuk ternakan sedekah sehingga mereka besar, bukan untuk ternakan unta dan domba miliknya sendiri. Umar juga pernah melakukan ini sebelumnya. Adapun mengangkat pimpinan dari generasi muda, hal ini dilakukan semata-mata kerana mereka mempunyai kemampuan dalam bidang-bidang tersebut. Rasulullah SAW juga pernah melakukan ini hal yang demikian. Adapun beliau mengutamakan kaumnya, Bani Umayyah, kerana Rasulullah sendiri mendahulukan kaum Quraish daripada bani lainnya. Demi Allah seandainya kunci syurga ada di tanganku, aku akan memasukkan Bani Umayyah ke syurga.”
Setelah mendengar penjelasan Ali ra., umat Islam pulang dengan rasa puas. Tetapi para peniup fitnah terus melancarkan fitnah dan merencanakan makar jahat mereka. Di antara mereka ada yang menyebarkan tulisan dengan tanda tangan palsu daripada sahabat termuka yang memburukkan Uthman. Mereka juga menuntut agar Uthman dibunuh.
Fitnah keji pun terus menjalar dengan kejamnya, sebahagian besar umat termakan fitnah tersebut hingga terjadinya pembunuhan atas dirinya, setelah sebelumnya terkepung selama satu bulan di rumahnya. Peristiwa inilah yang disebut dengan “Al-Fitnah al-Kubra” yang pertama, sehingga merobek persatuan umat Islam.
Pembunuhan Uthman
Saidina Uthman ra. syahid dibunuh oleh pemberontak-pemberontak yang mengepung rumahnya. Pada tanggal 8 Zulhijah 35 Hijriah, Uthman menghembuskan nafas terakhirnya sambil memeluk Al-Quran yang dibacanya. Sejak itu, kekuasaan Islam semakin sering diwarnai oleh titisan darah. Pemerintahannya memakan masa selama 12 tahun, yang mana ianya merupakan pemerintah yang paling lama dalam pemerintahan Khulafa‘ ar-Rasyidin.
Uthman syahid.
Anas bin Malik meriwayatkan hadis berikut:
“Nabi pernah naik gunung Uhud dengan Abu Bakr, `Umar, dan` Usman bin Affan. Gunung menggocangkan mereka. Nabi berkata (kepada gunung), Teguhlah wahai Uhud! Untuk Anda ada Nabi, seorang Siddiq, dan dua orang syahid.” (HR Bukhari)
READ MORE - Uthman bin Affan RA